Caramel dan Kisah Perempuan

Sesuatu yang manis memang kadang berujung menyakitkan, tapi merasakan manisnya terlebih dahulu adalah perasaan yang tak tergambarkan.
Caramel. Manis. Campuran antara gula dan air, bahkan lemon yang dimasak, lalu menghasilkan sesuatu yang baru.

Caramel dalam film Nadine Labaki adalah caramel sesungguhnya, campuran antara gula dan air yang dimasak. Caramel yang dipakai untuk proses "menyakitkan" menjadi cantik; waxing. Namun di luar itu, ternyata caramel yang digambarkan dalam film tidak hanya mengenai proses pembuatan bahan manis tersebut, bukan mengenai masak memasak, bukan juga mengenai bagaimana proses menyakitkan waxing, walau di dalam film diperlihatkan adegan-adegan proses pencabutan rambut di tubuh wanita, seperti tangan dan kaki. Sang sutradara sekaligus penulis skenario Nadine Labaki menyisipkan kisah-kisah perempuan di salon, tempat di mana perempuan-perempuan berbagai kalangan dengan perbedaan umur, gaya rambut, warna kulit tumpah ruah menjadi satu. Salon jika dilihat lebih mendalam seperti kumpulan kisah perempuan yang secara tidak sadar dibicarakan dalam keseharian, mengenai potongan rambut terbaru, membanggakan maupun mengeluhkan anak, suami yang sedang berpergian untuk pekerjaan, uang yang kurang, kehidupan tetangga-tetangga.

Tidak hanya permasalahan di kalangan ibu, salon juga mengumpulkan remaja, atau perempuan beranjak dewasa yang membicarakan ujian, bentuk badan indah perempuan di majalah, lelaki yang sedang disukai, hingga gairah masa depan yang kian hari kian menjauhi, cita-cita yang sulit tercapai, atau gosip terbaru mengenai idola.




Menurut sang sutradara film ini begitu spesifik, niat awalnya adalah ingin menunjukkan sisi lain kota Beirut di Lebanon terutama kaum perempuannya. Namun ketika film dilempar ke khalayak internasional tanggapan dari kebanyakan penonton adalah mengamini apa yang Caramel suguhkan, ini tidak begitu spesifik, permasalahan perempuan hampir sama di berbagai belahan dunia, perempuan lain mengalami itu.

Hal tersebut menyadarkan bahwa "human being" memiliki permasalahan yang tidak jauh-jauh. Berapa kali kita tersadar dan mengatakan sebuah pernyataan yang kita pikir bahwa hanya kita yang merasakan dan mengalami namun ternyata ketika diutarakan orang lain pun mengalami hal yang sama? berapa kali mengucapkan: "wah saya kira hanya saya yang mengalami hal tersebut, tapi ternyata kamu juga"?

Caramel memperlihatkan kehidupan beberapa perempuan, 3 pegawai salon: Layale, seorang perempuan mandiri kira-kira berumur 30 tahun, pemilik salon tersebut, cantik, ramah, namun di sisi lain dia seorang mandiri yang masih harus tinggal dengan orang tuanya (di Beirut hal tersebut wajar ketika perempuan belum menikah tinggal bersama dengan orang tua). Layale menjalin kasih dengan seorang pria beristri.

Lalu ada Nisrine, seorang muslim yang sebentar lagi akan menikah dengan calon suami yang dia pilih. Di salon Nisrine pribadi yang begitu bebas dan ceria, tapi Nisrine takut memberitahu sang calon suami bahwa dia sudah tidak perawan (muslim di Beirut juga sangat mementingkan keperawanan perempuan sebelum sebuah pernikahan).

Pegawai terakhir, Rima, yang kebingungan dengan orientasi seksualnya, Rima menyukai sesama perempuan (di Beirut seperti di beberapa negara lain, LGBT merupakan hal yang cukup tabu)

Dari 3 perempuan saja terlihat bagaimana permasalahan mereka begitu menyentuh beberapa perempuan yang memiliki keadaan sosial masyarakat serupa. Ketiganya memiliki sebuah kontradiksi antara keinginan pribadi dan norma masyarakat sekitar. Layale mencintai lelaki beristri, seakan memanifestasikan sebuah pernyataan bahwa perempuan lebih banyak menggunakan atau menuruti perasaan dibandingkan logika terutama ketika mereka sedang jatuh cinta. Mengapa Layale dan mungkin beberapa perempuan di luar sana melakukan hal yang sama, menyerah pada perasaan?

Simone de Beauvoir memiliki pemikiran yang kurang lebih dapat menggambarkan jawabannya, de Beauvoir menulis bahwa perempuan harus mengikuti aturan keluarga, terikat dengan laki-laki sejak masih anak-anak, terbiasa melihat laki-laki sebagai sosok teladan yang tidak akan bisa setara dengannya, sehingga perempuan hanya bisa bermimpi dan berharap bisa melampaui superioritas laki-laki, dan menganggap dirinya menyatu dengan sosok yang berkuasa itu. Adapun yang bisa dilakukan oleh perempuan yang masih terkekang dalam situasi ini adalah menyerahkan dirinya, jiwa-raganya kepada laki-laki yang dianggapnya penting dan berkuasa atas dirinya. Layale menyerahkan cinta dan dirinya pada lelaki yang menurut dia penting, bahkan tidak memikirkan aspek lain (sudah beristri dan memiliki anak).

Sosok Layale memperlihatkan kegilaan cinta perempuan sekaligus menimbulkan kegemasan para penonton perempuan yang merasa akal dan logikanya terpakai. Sudah berapa kisah perempuan dengan perasaan cinta jatuh terperosok ke situasi tidak masuk akal dan sulit keluar dari situasi tersebut. Seorang penulis dan pemikir asal Amerika Serikat Denis de Rougemont mengatakan bahwa rasa lapar akan cinta - atau yang lebih tepat bila disebut keinginan untuk jatuh cinta dan merasa dicintai - jika berbenturan dengan rintangan yang tepat dapat membuat korbannya lebih memilih "rasa sakit yang manis" itu ketimbang kesehatan, karir sosial, ambisi, segala bentuk kebahagiaan duniawi, dan akhirnya bahkan hidup itu sendiri. Situasi "abnormal" tersebut adalah karakterisitik kemabukan yang mengikuti gairah cinta. Mungkin perempuan pada tahap ini memang ingin menikmati manisnya "caramel" sebelum nanti bahan lengket tersebut akan mencabut bagian dari dirinya.



Sosok kedua adalah Nisrine perempuan muslim yang tidak perawan, takut ketidak perawanannya akan menghancurkan impian pernikahan bahagianya. Nisrine mengangkat konsep "kesucian" yang ternyata sudah ada dalam budaya patriarki Victorian. Perempuan Victorian mempertahankan kenaifan dan keperawanannya untuk kemudian menyerahkan dirinya bagi seseorang yang berani "membayar mahal".

Kesucian adalah sebuah harga yang ditukar untuk meningkatkan derajat seseorang, bahkan Floyd Dell memiliki pandangan yang cukup "ekstrem" untuk beberapa orang, menurutnya ajaran "kesucian" mengajarkan anak-anak perempuan tentang sebuah negosiasi ala pelacur untuk menukar tubuh mereka dengan kedudukan sosial dalam kerangka pernikahan yang sah. Bagaimanapun konsep tersebut telah dan masih dilegitimasi dalam struktur masyarakat patriarki belum lagi konsep tersebut diperkuat selain pada norma juga pada agama.

Untuk mengatasi ihwal ketidak perawanannya solusi Nisrine dalam film ini adalah (mengandung spoiler jika tidak bersedia jangan lanjut membaca) dengan berbohong, dia tidak mengakui pada calon suami atas ketidak perawanannya, Nisrine memilih operasi mengembalikan keperawanan dibanding berbicara secara jujur. Kesucian dalam masyarakat muslim di Beirut adalah harga yang tidak bisa dikompromikan dalam pernikahan.



Beirut adalah salah satu kota di Timur Tengah yang paling merdeka dan bebas dalam dunia media informasi, bahkan menjadi tolok ukur informasi yang tersebar di Timur Tengah di mana negara-negara Arab lain ada yang masih tertutup mengenai beberapa informasi. Tahun 2007 saat film ini dibuat, Nadine Labaki mengangkat Rima dengan orientasi seksual lesbian, wilayah yang cukup tabu dibicarakan walau seharusnya jaman sekarang sudah tidak lagi, secara perlahan dan apik Rima digambarkan tertarik dengan salah satu pelanggan salon, tidak dengan cara ekstrim namun ketertarikan cukup cantik diperlihatkan melalui senyuman serta sikap tubuh nyaman. Lebanon sendiri adalah negara Arab pertama yang memiliki jurnal publikasi mengenai LGBT dan dinyatakan paling toleran. Di dalam Caramel, sosok Rima seperti mengenalkan keramahan Lebanon serta keberanian media informasi Lebanon kepada dunia internasional.

Selain sosok-sosok perempuan pegawai salon, 2 sosok perempuan lain dalam Caramel memperlihatkan sisi usia dalam dunia perempuan. Terjadi kontradiksi penerimaan penuaan pada perempuan-perempuan ini,

Jamale perempuan dengan usia menginjak monopause sulit menerima kenyataan tersebut, Jamale mencintai kejayaan masa muda dan memilih ingin bertahan pada masa tersebut. Untuk mengatasinya Jamale pelanggan tetap salon dan terus mempercantik penampilannya, dia terobsesi pada dunia hiburan dan bercita cita menjadi artis. Di film ini usaha Jamale membohongi dirinya sendiri dan orang lain untuk membuat sebuah ilusi utopis usia muda dengan berpura-pura menstruasi. Terdapat satu adegan secara blak blakan Jamale menyimpan tisu di tong sampah yang dilumuri tinta merah agar terlihat sebagai darah, kepada perempuan yang sedang mengantri toilet Jamale mengatakan dia sedang menstruasi secara terang-terangan, tindakannya seperti ingin menunjukkan pada perempuan lain yang (padahal dia sendiri tidak mengenali perempuan tersebut) bahwa Jamale tidak tua. Analoginya seperti ingin mengatakan pada orang lain bahwa kita tidak berbohong padahal sebenarnya kita berbohong.

Bertolak belakang dengan Jamale, Rose adalah perempuan lanjut usia yang menerima penuaannya dengan lapang dada bahkan pasrah. Hidup Rose didedikasikan untuknya dan kakanya Lili yang mengalami keadaan "tidak sempurna secara mental". Mereka berdua hidup berdampingan menjalani masa lanjut usia, Rose adalah tetangga terdekat salon milik Layale namun belum pernah sekalipun menata rambutnya di salon. Krisis penuaan yang dialami Rose adalah ketakutannya untuk mendapatkan cinta dari lelaki layaknya pasangan muda. Ketika Jamale dengan permasalahan usia seperti mencari-cari cinta yang dia butuhkan, Rose kebalikannya, dia takut akan jatuh cinta.

Di film ini Rose mengalami manisnya dekat dengan lelaki yang mirip dengannya, lanjut usia dan hidup sendiri. Namun seakan tahu bahwa hal manis tidak selalu berujung kebahagiaan, Rose memilih untuk merelakan "kemanisan" masa depannya demi sebuah hidup nyaman dan tentram bersama kakak perempuannya. Perempuan yang ditunjukkan sosok Rose adalah perempuan yang kekuatannya terlihat dari kerelaan dan menerima kenyataan bahwa hidupnya akan berubah jika tetap berpegang teguh pada kemanisan cinta. Rose seperti menunjukkan bahwa terkadang perempuan harus memilih kepahitan di awal untuk dirinya sendiri dan orang lain yang menjadi tanggungannya, dalam film ini kakanya Lili adalah pilihan hidupnya saat ini, Rose meragukan ada lelaki yang dapat berkompromi dengan keadaan dirinya dan kakanya.

Rose tidak terlena dengan apa yang disebut "The Grandes Amoureuses" oleh Simone de Beauvoir, yaitu keadaan menggantungkan harapan dan mendedikasikan diri kepada orang yang lebih berkuasa (superior) atau dalam hal ini lelaki yang disukai, yang seringkali didambakan oleh perempuan yang telah merasakan asam-garamnya hubungan di usia muda, atau mereka yang telah merasakan kesendirian dan sering mengalami kegagalan, sehingga ketika mereka beroleh kesempatan untuk keluar dari kehidupan yang mengecewakan itu mereka begitu mendamba.
Rose seakan mengerti mengenai kehidupan monoton hidup bersama yang memerlukan kompromi terus menerus dan dia ragu akan kemampuannya serta calon pasangannya, sehingga dia memilih untuk tak perlu mengambil resiko tersebut.



Kisah yang disodorkan Nadine Labaki tidak disangka menyentuh banyak kalangan perempuan yang menonton di berbagai belahan dunia. Dalam satu film dipaparkan berbagai karakter dengan kehidupan masing-masing. Seperti yang diutarakan salah satu peserta diskusi film Selasa kemarin di komunitas LayarKita. Caramel adalah film yang bising, kebisingan perempuan.
Caramel adalah film pertama Nadine Labaki yang mengangkat kehidupan biasa, sehari-hari perempuan di Beirut dengan unsur komedi, berbeda dengan film ke duanya "Where Do We Go Now" yang mengangkat sisi patriotik perempuan-perempuan serta mempunyai peranan penting dalam sebuah aksi perdamaian.

Dalam Caramel, perempuan-perempuan ini tidak mengambil peranan penting dalam masyarakat luas Beirut. Mereka cerminan sosok perempuan yang bisa ditemukan di kawasan tempat tinggal kita, di salon terdekat, di jalan-jalan ramai, di ruang publik dan justru itu yang menjadikan Caramel istimewa. Mengetahui kisah "biasa" perempuan jauh di Beirut sana yang memiliki permasalahan hampir sama dengan perempuan di negara lain menunjukkan perspektif tersendiri.

CARAMEL (2007) | Sutradara: Nadine Labaki | Skenario: Nadine Labaki, Jihad Hojeily, Rodney  Al Haddad | Dibintangi: Nadine Labaki, Yasmine Al Massri, Joanna Maokarzel, Gisele Aoad, Sihame Haddad | Lebanon

Comments

Popular Posts