Statement, Recognition, Identity

Mempertontonkan dua film dengan latar dan isu yang jauh berbeda menghasilkan pembahasan menarik. Kedua film adalah pemicu awal berbagai pandangan. Film pertama, buatan luar Indonesia berlatar dunia terbagi dalam beberapa babak, isu yang diangkat adalah fashion. Babak satu perihal apa yang disebut "Technology Couture" yaitu sebuah kemajuan mode pencampuran antara teknologi modern dengan karya seni pakaian, yang dicontohkan adalah pakaian futuristik Lady Gaga yang dapat mengeluarkan gelembung sabun. Subjek pada babak pertama secara kebetulan (atau tidak?) sejalan dengan tema The Metropolitan Museum Of Art Costume Institute Met Gala tanggal 2 Mei kemarin. Acara penggalangan dana yang dikepalai Editor In Chief majalah Vogue: Anna Wintour tersebut tahun ini mengusung tema "Manus x Machina: Fashion In An Age Of Technology".

Met Gala adalah fundraising bergengsi di mana tamu yang diundang pada malam pembukaan akan berjalan di red carpet memakai mode pakaian yang sesuai dengan tema eksibisi Museum. Selebritis berbondong-bondong datang dengan pakaian futuristik mereka, acara mode tahunan ini begitu tersohor dan menjadi sorotan industri fashion menyaingi red carpet Oscar yang diorganisir "Vanity Fair". Fashion dan teknologi dalam industri mode internasional mulai saling disandingkan, saat ini teknologi menyentuh kebutuhan sandang.

Lady Gaga in Bubble Costume

Teknologi tidak hanya berperan untuk estetika saja, di babak kedua film, teknologi dipakai untuk pakaian olahraga para atlit. Percobaan dan penelitian mengenai "Smart Clothes" sedang dikembangkan di Jerman. Pakaian yang dapat mendeteksi detak jantung, tekanan darah, kondisi tubuh dan menghubungkannya dengan perangkat tablet diharapkan akan mempermudah serta membantu atlit memaksimalkan effort ataupun mencegah terjadinya cedera.

Selain itu di babak berikutnya diperlihatkan ilmuwan yang sedang berusaha membuat sustainable textile material menggunakan bakteri dan fermentasi. Fashion tidak hanya bertemu dengan teknologi melainkan juga dengan sains. Hal tersebut semakin diperkuat dengan bagian film berikutnya yaitu pewarnaan textile tanpa menggunakan air, gabungan teknologi dan sains menghasilkan sebuah mesin untuk mewarnai kain tanpa penggunaan air, mesin ini mengurangi penggunaan bahan kimia hingga 50%. Industri mode sadar dampak buruk dari kebutuhan sandang pada lingkungan. Usaha-usaha yang dipertunjukkan adalah untuk mengurangi dampak terburuk di masa depan.


Sebab pencemaran lingkungan yang dikarenakan industri mode sudah mulai disadari oleh beberapa brand dunia salah satunya Patagonia di Chicago. Campaign mereka "Don't Buy This Jacket" menggebrak masyarakat, Patagonia menyerukan slogan Don't Buy What You Don't Need and Think Twice Before You Buy Anything, bahkan untuk menunjukkan keseriusannya Patagonia menghadirkan layanan repair, reuse dan recycle. Niat baik tersebut dikatakan sebuah strategi market yang berhasil, padahal terlihat seperti usaha anti-marketing namun faktanya pendapatan mereka bertambah. 


Apa yang dilakukan Patagonia begitu kontradiksi dengan fenomena "fast fashion", yang mau tidak mau digandrungi oleh sebagian besar penduduk dunia. Isu ini mulai diperbincangkan atau bahan perenungan serta diskusi seiring menyebarnya film "The True Cost" yang menyinggung industri pakaian dan kehidupan proletar. Fashion yang dianggap "luxury" jika ditelusuri akarnya maka akan sampai pada kerja keras kelas pekerja atau buruh. 

Film kedua berlatar Indonesia, sebuah pesantren khusus waria di Jogjakarta. Dokumenter buatan Vice berjudul "The Warias" mempertontonkan kehidupan kaum marginal yang haus akan religiusitas dan ilmu agama. Penonton dibawa menelusuri lorong kehidupan transeksual yang datang dari berbagai daerah di Indonesia tidak lain karena pesantren yang dipelopori Maryani tersebut menerima mereka dengan tangan terbuka. Kebanyakan waria keluar dari rumah karena tidak diterima keluarga, namun ada juga yang orang tuanya meninggal dan memang hidup sebatang kara. Waria-waria tersebut ada yang masih bekerja prostitusi, mengamen atau mulai beralih dengan membuka salon sendiri. 

Opsi pekerjaan waria nampaknya berputar di itu-itu saja, mungkin disebabkan oleh penampilan luar mereka yang teridentifikasi secara jelas dan bidang-bidang pekerjaan "formal" tidak ada yang mau menerima. Transeksual memiliki dorongan lebih akan identitas mereka sebagai perempuan sehingga berusaha melakukan berbagai hal agar berubah menjadi perempuan dari mulai penampilan termasuk organ tubuh. 

Di dalam film bahkan diperlihatkan bagaimana mereka melakukan suntik silikon tanpa prosedur dokter maupun lembaga kesehatan atau kecantikan berpengalaman demi memiliki sepasang payudara. Hasrat berubah menjadi perempuan mereka begitu tinggi, tubuh yang mereka punya seperti perangkap. Mereka merasakan secara nyata pergulatan batin Einar Wegener yang ingin berubah menjadi Lily Elbe dalam film nominasi Oscar "The Danish Girl".

Film pertama begitu futuristik, memikirkan fashion jauh ke depan. Film kedua memiliki realita yang tidak bisa ditolak. Bagaimana kedua film ini saling dikaitkan?

Fashion: Statement, Recognition, Identity

Kedua film adalah sebuah dokumenter dengan penekanan pada satu garis yang dapat ditarik, menyentuh bidang visual individu, penampilan.

Katakan secara kasar bahwa film pertama menunjukkan sebuah kemajuan dari individu modern. Hal-hal yang diangkat seputar industri pakaian sudah bukan lagi mengenai identitas dan pengakuan dasar. Fungsinya diharapkan jauh melampaui itu, kesadaran yang muncul adalah hal abstrak di masa depan. Bagaimana efek yang akan timbul disebabkan oleh apa yang terjadi saat ini.
Isu yang diangkat dari mode sudah masuk ke tahap lingkungan, teknologi untuk membantu kemudahan manusia, bahkan mengkritisi pola konsumsi berpakaian. 

Statement muncul dari kesadaran, kesadaran individu-individu di film pertama berbeda dengan waria di film ke dua. Kepentingan mereka berlainan.

Film ke dua adalah fashion untuk pengakuan dan identitas. Waria-waria tersebut menggunakan bagian luar dari dirinya untuk melengkapi apa yang mereka yakini sudah ada di dalam. Identitas mereka tidak lengkap tanpa tubuh, mode, dan penampilan yang sesuai dengan yang mereka percaya.

Mengapa penampilan luar begitu penting?

Pertanyaan tersebut sebenarnya dapat ditujukan tidak hanya untuk waria tapi juga untuk semua orang. Kembali ke fungsi awal pakaian, yakni melindungi tubuh dari hal di luar tubuh yang diduga akan berakibat negatif. Misalnya cuaca terik, hawa panas atau dingin, debu dan lain lain. Lalu mari sedikit berimajinasi: jika manusia tidak menciptakan pakaian? Manusia telanjang melakukan berbagai aktifitas. Apa yang terjadi? Selain badan yang terpapar fenomena alam maka tercipta keseragaman. Keseragaman? Ya,

maksudnya adalah dibalik pakaian kita, kita memiliki fisik yang sama bukan?

Apa benar? Lalu bagaimana dengan warna kulit? rambut? Postur tubuh? Panjang kaki? Bahkan bagian badan kita yang paling terlihat berbeda, wajah.

Jadi yang menggelitik adalah apakah manusia sejak awal memang diciptakan "berpakaian". Bukankah ada sebuah opini bahwa tubuh atau badan adalah "pakaian" untuk roh kita? Hasrat terbesar manusia untuk berpakaian sesuai dengan apa yang diinginkan mungkin sudah tertanam di alam bawah sadar jauh sebelum manusia berpikir mengenai pakaian itu sendiri.

Karena diciptakan memiliki tubuh yang berbeda maka mau tidak mau kesadaran manusia mendorong keinginan pengidentifikasian yang berbeda pula. Dalam benak ada ketakutan tersendiri akan keseragaman, diperkuat doktrin pernyataan "we are special" lebih-lebih untuk tradisi agama tertentu manusia dinyatakan lebih spesial dibandingkan malaikat. Manusia dituntut untuk menjadi diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan. Manusia sudah spesifik sejak awal.

Pengakuan identitas melalui pakaian juga didorong oleh society yang kurang cakap dan terlatih mengenali seseorang hanya lewat wajah atau postur. Otomatis pakaian dibutuhkan untuk memperkuat informasi. Identifikasi dan pengakuan adalah tahap awal dari kebutuhan berpakaian. Tahap masih ingin menikmati produk primer manusia.

Lalu apakah orang-orang di dalam film pertama sudah tidak menikmati pengakuan identitas?

Sandang (pakaian), pangan (makan), papan (tempat tinggal) adalah kebutuhan primer manusia. Orang-orang di film pertama telah memenuhi ketiga kebutuhan tersebut sehingga yang dipikirkan kemudian adalah hal abstrak yang "kesannya" tidak benar-benar menyentuh kehidupan kita. 

Contohnya adalah climate change, untuk beberapa kalangan di Indonesia terutama yang kebutuhan primernya masih belum terpenuhi, hal "abstrak" seperti climate change nampak begitu jauh. Masih banyak masyarakat Indonesia yang gagasan sehari-harinya seputar "hari ini bagaimana makan" atau "besok di mana tidur", hal-hal konkret dan masalah nyata. Sebuah dokumenter lain yang dibuat oleh individu-individu yang kebutuhan primernya terpenuhi bahkan membuat statement yang memperkuat hal tersebut "We're not so well-equipped with dealing rationally with very long term problems like climate change
Mereka saja mengatakan hal seperti itu. Apa kabar kaum yang hidupnya dibawah garis kemiskinan?

Pertanyaan yang merangsang adalah bagaimana sikap kaum menengah? Kebutuhan primer sudah cukup didapat walaupun belum sampai pada tahap maju, pendidikan cukup juga diraih. Sebagian besar penduduk Indonesia adalah kaum menengah yang menikmati "fast fashion", masih ingin menikmati produk kemodernan, tapi sebagian lain juga menyadari dan paham akan "hal abstrak" di masa depan tersebut, paham akan isu mendesak dan statement yang dibawa masyarakat maju modern. Di mana kita harus menyimpan visi? Mengikuti masyarakat maju dengan futuristiknya? Atau tetap di tempat? 

Apa yang diutarakan di atas sepertinya mewakili opini "kesadaran atas ketidak sadaran" atau mengutip Drs. Setiawan: "tahu di tidak tahunya". Kaum menengah tahu akan ketidak tahuan, memahami secara rasional berbagai isu masa depan tapi tidak tumbuh sejalan dengan kekuatan mentalitas. Ketidak sadaran masih mendominasi, kasarnya "kebanyakan tidak mikir".

Padahal dorongan untuk berpikir jauh ke depan mungkin bisa dikondisikan, apalagi dengan kondisi budaya kita yang latah. Di Indonesia, trend menyebar sangat cepat, apa yang dianggap berharga oleh sebagian orang juga dianggap berharga oleh orang lain.
Beberapa kelompok menyadari kondisi budaya latah ini dapat dimanfaatkan namun kelompok yang lain (bisa juga kelompok yang biasa memanfaatkan kondisi budaya latah) takut akan penyebaran gejala pemikiran yang tidak sesuai dengan kehendak.

Gilbert Highet bahkan mengatakan telah sering terjadi, bahkan hari ini, terdapat mereka yang mencanangkan bahwa sekumpulan pengetahuan tertentu harus dimusnahkan, atau sedemikian dibatasinya sehingga menjadi sangat rahasia -- bukan disebabkan karena fakta-fakta yang dikemukakannya keliru, atau disebabkan rasa takut bahwa hal itu akan mempengaruhi moral orang yang tidak bertanggung jawab, namun disebabkan bahwa jika hal itu diketahui orang secara luas, pengetahuan itu akan merupakan bahaya bagi golongan, organisasi politik, organisasi agama atau organisasi sosial tertentu.

Kematangan berpikir beserta kekuatan mental adalah evolusi dari individu maju. Individu yang mampu mengidentifikasi mana kebutuhan primer, mana sekunder serta menyadari imbas perbuatannya saat ini terhadap lingkungan, terhadap masyarakat, tehadap dunia jauh ke depan.




Tulisan terinspirasi dari Kelas Filsafat Film, Extension Course Filsafat UNPAR dengan tema:
Kelas berlangsung setiap hari Jumat pukul 18.30 WIB sepanjang 11 Maret - 3 Juni 2016

Comments

Popular Posts