Apakah Membenci Adalah Sebuah Bentuk Partisipasi?

Dalam film "Everybody Wants Some" dua orang tokoh berdialog mengenai gairah mereka menjalani dunia, mengenai bagaimana perasaan mereka ketika melaksanakan berbagai kegiatan yang sesuai dengan passion. Dan menurut dua pasangan yang digambarkan sebagai freshman di bangku kuliah, itu adalah bentuk partisipasi mereka terhadap kehidupan. Belajar dan memanifestasikan passion masing-masing.
Lalu apakah menyebarkan kebencian juga merupakan bentuk partisipasi terhadap kehidupan?

Jika pertanyaan tersebut diajukan dalam sebuah pertanyaan cepat jawab jujur seperti sebuah kuis psikologi Jepang bernama kokologi maka jawabannya akan tergantung dari setiap individu (what a classy, every single things will be up on the person choose)
Namun hal klasik tersebut memang begitu adanya, tergantung masing-masing orang.

Saya menulis ini karena perasaan campur aduk dan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban yang mungkin tidak hanya saya saja yang merasakan, saya yakin beberapa orang di luar sana pun begitu.

Perasaan itu muncul ketika melihat berbagai berita mengenai aksi teror, pertama di Madinah, beritanya bermunculan di sana sini, salah satunya bisa diklik di sini:
Selain itu ada pula serangan bom dilakukan di hari yang sama di luar Masjid Syiah di kota Qatif, Arab Saudi bagian Timur.

Setelah itu muncul kembali berita mengenai aksi teror yang lain, di Solo terjadi peristiwa bom bunuh diri.

Selain itu berita teror bom tidak berhenti, di sebuah negara yang saat ini mungkin masih belum benar-benar mengecap bagaimanakah perdamaian yang dirasakan negara lain.
yang membuat saya semakin tercengang adalah peristiwa bom tersebut dilakukan secara kontinuitas.
28 Februari 2016 : bom bunuh diri di sebuah pusat perbelanjaan menewaskan 70 orang
6 Maret 2016 : di dekat pusat kota Hilla, 47 tewas
26 Maret 2016 : Pusat kota Iskandariya, setidaknya 32 tewas
1 Mei 2016: Di selatan kota Samawa, 33 orang tewas
11 Mei 2016 : di Baghdad, 93 orang tewas
17 Mei 2016 : Baghdad, menewaskan 69 orang
9 Juni 2016 : Baghdad, 30 tewas

Tidak cukup sampai disitu, tidak lupa saya cantumkan juga peristiwa bom di Istanbul, yang menewaskan 41 orang.

Selain itu, jangan lupakan beberapa negara dengan peringkat The least Peaceful countries artinya, di negara-negara ini, petasan kembang api yang sesekali terdengar di atas atap dan kau sumpahi karena mengganggu ketenangan adalah suara-suara yang menina bobokan penduduk-penduduk untuk tidur, yaitu:
1. South Sudan 
2. Irak
3. Somalia
4. Sudan
5. Central African Republic
6. Democratic Republic Of Kongo
7. Pakistan
8. Afganistan
9. Syria

Benar sekali, yang mengganggu perasaan saya yang pertama adalah, konflik terjadi bahkan mungkin setiap hari, setiap hari di antara salah satu negara tersebut ada seorang ayah yang meninggal, anak kecil yang sejak lahir tak pernah mendengar musik kecuali dari nyanyian kakak perempuannya yang orang tuanya tewas meledak bersama dengan tempat tinggalnya, bayi di dalam pelukan seorang ibu yang meregang nyawa, pemuda yang memiliki keinginan sederhana untuk terus bersama keluarganya namun terpaksa memegang senjata, balita mengais makanan di tempat sampah, perempuan diperkosa oleh puluhan orang jahat, ibu dengan kaki terluka ke sana ke mari mencari air setetes untuk pelepas dahaga dia dan anaknya.

Jumlah nyawa yang meninggal dan kau lihat di berita terlihat seperti kuantitas jumlah tidak berarti. 1? 4? 70? 65? 91? itu hanya angka. Tapi jika kau mengimajinasikan satu nyawa saja, hanya satu dengan seluruh kehidupannya, dengan latar belakangnya, dengan bagaimana orang tersebut menangis saat lahir, dengan warna matanya yang mungkin hijau, atau biru atau coklat, dengan keluarganya, bagaimana kebahagiaannya menghabiskan waktu dengan orang yang dicintai maupun pernah dicintai, kisah asmaranya, cita-citanya, mimpi-mimpinya di waktu malam, kelebihannya, keinginan terbesarnya, perasaannya yang menghangat saat dalam pelukan. Kau bayangkan sekelumit kehidupan satu orang, satu nyawa manusia, dan angka-angka jumlah korban tersebut menjadi begitu besar. Begitu menyesakkan dada hingga pada tahap untuk orang-orang jahat pun kau tidak bisa membenci.

Pramoedya Ananta Toer menulis kegelisahannya lebih dulu: Betapa banyaknya pertentangan di dunia ini. Siapa terhadap siapa. Bangsa lawan bangsa. Golongan versus golongan. Pribadi kontra golongan, golongan kontra pribadi. Kelompok lawan golongannya sendiri dan bolak-balik. Pemerintah lawan warganya sendiri. Semua hanya warna warni satu ihwal: pertentangan kepentingan!

Yang menggelisahkan untuk saya adalah, bahkan pada si Jahat, pada peran antagonis di konflik tersebut saya merasa bahwa membenci menjadi sesuatu yang saya pertimbangkan kembali. Karena pada si Jahat saya pun membayangkan latar belakang kehidupannya.

Ada sebuah paham yang dielu-elukan Jo Stockston di film "Funny Face" yang mungkin menggambarkan hal tersebut: emphaticalism, the most sensible approach to true understanding and peace of mind. It's based on empathy, it goes beyond sympathy. Sympathy is to understand what someone feels. Empathy is to project your imagination so you actually feel what the other person is feeling. You put yourself in the other person's place.



Setelah berita-berita mengenai peristiwa bom bunuh diri, simpati bermunculan di dunia internet. Netizen berdoa, menyayangkan, bersedih, marah dan membenci.

Dan inilah yang menjadi pergulatan batin, saya merasa gelisah dengan orang-orang yang menyuarakan kebencian terhadap sesuatu yang dilakukan atas dasar benci.

Membuat sebuah spekulasi, menyebarkan sebuah teori yang membenci satu golongan lalu membela-bela satu golongan.

Perasaan yang terungkap pertama kali mungkin saja bukan benci melainkan marah, dan itu bisa saja adalah sebuah bentuk perasaan paling "manusia", orang akan mewajarkan. Namun menyuarakan kebencian? Mengatakan pada publik bahwa kau membenci orang-orang yang melakukan bom bunuh diri tersebut, memprotes mengapa tidak ada yang mengangkat suara, menyalahkan kelompok-kelompok. Seperti memerangi konflik dengan mengajak berkelahi.

Kau membenci perang dengan mengobarkan sebuah perasaan yang mengawali kenapa sebuah perang terjadi. Benci.

Ah tapi apalah arti omonganmu Run, mengejewantahkan empati di sini menjadi sebuah paradoks. Dengan tidak membenci apakah malah artinya kau tidak benar-benar ber-empati dengan korban. 

Bagaimana jika kau mengimajinasikan tempatmu berada pada salah satunya, orang terdekatmu yang terbunuh, ibu misalnya? Yakin kau bahwa perasaan benci tidak akan muncul?

Jadi
Apakah membenci adalah sebuah bentuk partisipasi?

Saya jadi ingat mengenai tulisan Jakob Sumardjo yang membahas "batas adalah bersifat paradoksal", karena memisah namun menghubungkan juga. Kalau ada batas pun amat tipis. Batas ini merupakan entitas ketiga yang menghubungkan sekaligus memisahkan dualisme antagonistik entitas-entitas lainnya. Itulah sebabnya batas, adalah sacral karena nilai paradoksalnya, 

Dilihat dari sudut ini, maka 'kehendak', 'pikiran', dan 'tindakan' atau 'kekuatan', merupakan terjemahan dari dua entitas yang antagonistik, yakni kehendak dan pikiran, rasa dan nalar, naluri dan akal, disatukan sekaligus dipisahkan oleh tindakan atau perbuatan. Tekad, ucap disatukan dalam laku. Tetapi laku itu pula yang memisahkan antara tekad dan ucap, naluri dan pikiran, bawah sadar dan kesadaran.

Tingkah laku seseorang cermin dari pikiran dan kehendaknya.

Mungkin saat ini sebatas masih di dalam tekad untuk tidak membenci.

Terakhir saya setuju dengan apa yang diutarakan Malala Yousafzai:

If you want to end war,
then instead of sending guns, send books
Instead of sending tanks, send pens.
Instead of sending soldiers, send teachers.


Comments

Popular Posts