Pembuatan SIM Internasional - Gimana sih caranya?

Jika saya harus menobatkan pelayanan birokrasi kepolisian mana yang paling keren. Mungkin untuk sekarang jawabannya adalah pembuatan SIM Internasional!
Saking mudahnya pembuatan SIM ini saya hampir-hampir kurang percaya. (jangan suudzon mulu makanya sama birokrasi di Indonesia)
Lucu sih, karena terbiasa ketemu sama birokrasi di Indonesia yang belibet, dari mulai pembuatan KTP (harus ke rumah pak RT dulu, lanjut ke Pak RW, lanjut cap ke Sekretaris RW, lanjut ke Kelurahan, baru ke Kecamatan), pembuatan SIM A atau SIM C (pengalaman terakhir sekitar bulan lalu antar teman perpanjang SIM bingung luar biasa karena sama sekali ngga ada keterangan gimana caranya perpanjang, saran ke depan untuk pihak kepolisian: "pak plis pak pekerjakan lulusan desain untuk bikin infografis dan tolong pampang segede gaban di tempat strategis"), pembuatan akta, bahkan sekarang di Perpustakaan Daerah Jabar katanya kalau mau daftar kartu anggota harus ada surat rekomendasi dari fakultas atau sekolah (what the??). Di sisi lain sempet denger cerita dari temen-temen yang pengusaha muda: gimana ribetnya urusan buka usaha, perizinan dagang, hak paten merek dll. (ada harapan karena belakangan ini banyak program-program pemerintah yang katanya akan membantu semakin mempermudah birokrasi pengusaha UMKM di NKRI).
Saya mengalami sendiri gimana mudahnya bikin SIM Internasional dan bikin happy luar biasa. Birokrasi yang tidak belibet meningkatkan tingkat kebahagiaan warga.

Latar Belakang Masalah (Macam skripsi aja Run)
First thing first, kenapa saya tertarik untuk membuat SIM Internasional tidak lain dan tidak bukan karena di Jerman ada program Car-Sharing. Teman yang baru pulang dari Munich atau bahasa Jermannya MΓΌnchen mendorong saya untuk bikin SIM Internasional dengan penjelasannya yang menggebu uda semacam sales program Car-sharing. Nah emang apaan itu Car-sharing?



Penjelasan singkat padat, jelas dan dipertanyakan keakuratannya begini:

Jadi di Jerman sistem transportasinya sudah sangat teratur, terintegrasi dengan baik, nyaman, serta tepat waktu. Tambahkan berbagai pujian lain yang dapat manusia utarakan. Lah terus ngapain bikin SIM Internasional? Pake transportasi umum aja kalik Run. (I'll definately do that but who knows if I want to try driving?)
As you know, Jerman adalah negara yang memproduksi banyak kendaraan bermotor, tapi hampir 45% warganya ngga beli mobil (ada penelitian mengatakan: di Munich kendaraan bermotor yang dimiliki setiap orang atau keluarga hanya digunakan sebanyak 45 menit sehari, sisanya diam di garasi atau di tempat parkir tapi tentu saja mereka harus tetep bayar tax, asuransi, perawatan dll). Anak muda Jerman menganggap itu sesuatu hal yang ngga efisien, terlalu ribet dan membuang uang. So they choose not to buy a car.

Perusahaan mobil akhirnya cari akal, dibuatlah Car-sharing. Yang gabung untuk Car-sharing ini antara lain Mercedes Benz dengan Smart-nya, BMW dengan Mini Cooper, BMW 1 Series, X1 Series, perusahaan lain mensuplai Fiats 500 sampai Volkswagen Golf.
Nah mobil-mobil tersebut tersebar di berbagai tempat di Jerman, di tempat-tempat parkir umum yang diijinkan.
Anak muda setelah mendaftar sebagai pelanggan Car-sharing akan mendapat kartu dan dianjurkan mendownload aplikasi pelacak mobil ada di mana saja.

Jika suatu hari sedang ingin bermobil atau butuh bawa banyak barang hingga sulit untuk menaiki kereta maupun bis. Kamu bisa track mobil di sekitar kamu dan tap kartu kamu di mobil yang bertanda Car-sharing, and you can drive it freely anywhere (tapi ngga boleh ke luar negara bagian). Gojek , Uber atau Grabcar kan kita cari driver terdekat, kalau ini cari mobil terdekat. Uang "penyewaan" akan ditarik dari kartu credit sebesar 28-31 Cent per menit (tergantung perusahaan Car-sharing mana). Which is menurutku worth it juga karena di Jerman jalanan kosong so maybe you don't need much time to get to your place. Setelah pakai mobil kamu bisa parkir di mana aja yang sudah tentu di tempat diperbolehkan untuk parkir.
Dan jangan heran kalau tiba-tiba mobil yang sebelumnya diparkir menghilang, karena berarti ada pelanggan lain yang pakai.

Secara garis besar prinsipnya seperti itu. Bayangkan mental di sana uda bebas aja perusahaannya ambil resiko mobil dipakai orang ganti-ganti, disebar tanpa ada yang jaga. Saya juga sempet googling serta liat beberapa video Youtube yang menjelaskan tentang Car-sharing ini. Penasaran ngga sih siapa tau dapat kesempatan ngendarain mobil-mobil nyaman plus cepat itu yang kalau di sini ngga bisa dibawa ngebut karena macet dan emang ngga boleh karena ada speed limit.
Oh yah di Jerman ada yang namanya Autobahn, semacam jalan tol yang kecepatan minimum berkendaranya 60km/jam dan maksimum sekitar 130km/jam. Speed limitnya segitu bos hampir dibilang ngga ada speed limit, vrooom you can fly~

Itulah Bab Latar Belakang yang membuat saya kabita ingin membuat SIM Internasional. Lagian menurut saya dengan proses secepat serta semudah ini, kenapa engga?

Apa persyaratan membuat SIM Internasional?
1. Membawa KTP asli serta fotocopy nya.
2. Membawa paspor asli serta fotocopy
3. Membawa SIM asli serta fotocopy
4. Membawa pas foto warna terbaru berlatar belakang biru tampak depan berpakaian rapih berkerah, ukuran 4x6 sebanyak 3 buah.
5. Membawa materai 6000
6. Menyiapkan biaya sebesar Rp.250.000

Setelah beberapa kali googling dan baca blog pengalaman orang-orang yang sudah lebih dulu membuat SIM Internasional, menurut mereka estimasi waktu pembuatan sekitar 15 menit. Berbekal pengetahuan tersebut saya datang ke Mabes Kepolisian Negara Republik Indonesia Korps Lalu Lintas di sela-sela mengambil Visa. Bapak gojek sempat salah mengantar, alamat Mabes ada di M.T Haryono yang panjang dan ternyata ada dua kantor polisi di situ. Yang satu semacam kantor untuk kasus kecelakaan, yang satu lagi baru lah tempat yang sebenarnya. Cuma jangan takut, walau saya salah diantar, antara kedua tempat ini tidak begitu jauh, dan dapat ditempuh dengan jalan kaki.

Jembatan penyebrangan di Jakarta saat jalan kaki (ngga ada hubungannya sama SIM -__-)

Pembuatan SIM Internasional harus didatangi langsung oleh sang pemohon, tidak bisa diwakilkan. Bagi yang lupa membawa materai jangan gusar karena di Koperasi Mabes tersedia materai.
Ketika masuk gerbang Mabes saya langsung ditanya bapak polisi yang sedang menjaga pos, walaupun di gerbang sudah ada marka penunjuk arah menuju tempat pembuatan SIM Internasional, ada baiknya bertanya juga pada sang bapak polisi sehingga ditunjukkan arah yang lebih akurat karena Mabes Polri nya cukup luas.

Saya sampai di bangunan sebelah masjid bertuliskan PELAYANAN SIM INTERNASIONAL dengan hah heh hoh karena panas luar biasa. Masuk ke dalam pintu kaca hitam kamu akan melihat sofa-sofa yang bisa diduduki serta mesin pengambil antrian semacam di Bank. Ambil antrian tersebut dan masuk saja ke dalam ruangan berkaca yang seperti kantor di belakang mesin antrian.

Masuklah ke pintu kaca di sebelah kanan bangunan ini

Ketika di dalam, ada beberapa orang yang sedang menunggu dipanggil. Saya sempat membeli roti di Koperasi Mabes Polri karena belum sempat sarapan. Sambil ngemil roti sambil melihat situasi sekitar. Entah kenapa saya ngga foto dalam ruangannya... menyesal

Ruangannya adem karena difasilitasi AC, beberapa sofa nyaman juga ditempatkan di berbagai sudut. Lalu ada sekitar 2 meja untuk registrasi, 1 meja kasir dan 1 ruangan kecil untuk foto serta scan sidik jari. Betul ruangannya tidak besar, cenderung kecil, petugasnya pun hanya bertiga, tapi kerjanya maksimal.

Saat dipanggil kamu akan diminta menuju registrasi untuk menyerahkan persyaratan yang sudah kamu kumpulkan sebelumnya (saya sempet panik karena paspor asli saya ada di Kedutaan untuk pengambilan Visa, untung saja dengan hanya fotocopy tidak masalah), setelah itu mengisi formulir, sekali panggil kadang 2 orang. Satu dilayani oleh ibu Polwan cantik satu lagi bapak Polisi kece, bapak Polisi ini selain membantu mengisi formulir juga bertugas untuk mengambil foto dan scan sidik jari. Bapak Polisi terlihat mengerjakan pekerjaan dua orang, tapi mengisi formulir tidak sulit kok, dengan disupervisi satu ibu Polwan juga sebenarnya cukup.

Selesai mengisi formulir kamu akan diminta ke kasir untuk membayar biaya pembuatan sebesar Rp. 250.000 untuk SIM baru.
Setelah bayar tanpa menunggu lama kamu akan dipanggil untuk foto serta scan sidik jari.
SELESAI DEH!
SIM mu langsung jadi dan diserahkan oleh bapak polisi kece lengkap dengan buku regulasi mengemudi.

HAH GITU DOANG?
IYA GITU DOANG. Kurang dari 35 menit (itu juga karena saya menunggu 4 orang antrian). Kalau kosong, ya paling prosesnya 10 menitan.

Selesai bikin saya senang luar biasa, bukan karena dapat SIM nya (eh ini juga sih) tapi lebih karena ketemu birokrasi yang efisien tanpa memakan waktu banyak, tanpa keribetan administrasi.
Oh ya di bukunya ada negara-negara mana aja yang berlaku untuk SIM Internasional Indonesia atau kamu juga bisa googling, kurang lebih ada sekitar 40 negara. Sejauh ini Jerman termasuk, cuma saya juga masih deg degan sih apakah diakui atau tidak karena belum pernah ada yang sharing tentang pengalamannya mengemudi dengan SIM Internasional yang diperiksa petugas. Well, di sana kayanya jarang banget razia atau mungkin ngga ada? 
Jikalau kamu diperiksa SIM nya ya karena ada kemungkinan kamu melanggar peraturan lalu lintas. Ya ngga sih?


Begitulah proses birokrasi yang cepat dan menyenangkan. Saya sampai sekarang masih mesmerized sama prosesnya. Ke depan mungkin kalau saya bisa coba Car-sharing, I'll definately write it here!
Semoga bisa membantu teman-teman yang kabita juga untuk membuat SIM Internasional. 

Pembuatan SIM Internasional hanya tersedia di Jakarta, itu salah satu kekurangannya. Kekurangan lain adalah bentuk SIM nya yang agak lebih besar dari paspor, jadi jangan harap dapat kartu seperti SIM Nasional kita. SIM Internasional seperti buku.

Ini penampakan SIM nya

Yang mau baca lebih lanjut mengenai Car-sharing di Jerman bisa buka tautan ini:

Yang mau cek gimana syarat bikin SIM Internasional tinggal googling dengan kata kunci:
Persyaratan Pembuatan SIM Internasional dan jeng jeng jeng akan banyak orang-orang berbagi pengalamannya masing-masing.

Comments

Popular Posts