Freistunde - Pengantar Ringan Sekolah Demokrasi

Doing Nothing All Day

Terlalu membosankan, tidak mengerjakan apapun sepanjang hari, untuk beberapa orang akan terserang suatu penyakit ruang tertutup. Sedikit sakit kepala kurang udara segar, badan juga tidak digerakkan dan berujung pegal-pegal. Mungkin..
Tapi pada dasarnya tubuh, otak manusia diciptakan untuk digerakkan. Bahkan alam bawah sadar memiliki sebuah dorongan aneh, dorongan dasar kebutuhan manusia: belajar.

Belajar yang belum-belum sudah dihakimi si ego bahwa dia adalah hal yang membosankan, membuat stres dan membunuh semangat hidupmu pelan-pelan.

Lalu sebagai seseorang makhluk hidup yang katanya selalu belajar sepanjang hayatnya, karena kehidupan sendiri adalah sebuah pelajaran, bagaimana jika manusia ini mulai menggugat lembaga utama tempat di mana kata belajar ini tumbuh dipupuki: SEKOLAH

Freistunde dalam bahasa Indonesia sendiri artinya jam bebas / waktu bebas. Lalu yang ditunjukkan film ini adalah sebuah sistem sekolah alternatif di mana sang pelaku yang terlibat dalam situasi belajar mengajar dapat menentukkan sendiri hampir segala hal.



Dalam arti lain, tiap-tiap individu bagian dari sekolah memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Sekolah mengijinkan semua berpartisipasi - baik secara langsung atau melalui perwakilan - dalam perumusan, pengembangan dan pembuatan peraturan. (Pada dasarnya itu adalah arti sebuah demokrasi)

Sekolah demokrasi atau dalam bahasa Jerman Demokratische Schule adalah sebuah topik utama yang diangkat dalam film Freistunde. Film dokumenter dibumbui eksperimental dan kisah fiktif tentang seorang ibu yang mencari sekolah terbaik untuk anaknya.

Sistem sekolah yang diprakarsai oleh seorang ahli Pedagogik Skotlandia A. S. Neill pada tahun 1921 ini paling banyak dipraktikan di dua negara: Israel dan USA. Di Jerman sendiri yang paling terkenal dan mungkin satu-satunya yang memiliki komponen sekolah kokoh adalah Kapriole di Freiburg, sebuah kota otonom bagian dari Baden-W├╝rttemberg.

Sistem sekolah demokrasi di Jerman belum populer oleh sebab itu dalam film terdapat pula cuplikan demonstrasi besar para pelajar di Jerman yang menggugat sistem pendidikan mereka agar lebih baik. Demonstrasi ini dilakukan di Munich musim panas tahun 2010. Pelajar menggugat pembebasan kurikulum di sekolah. Students want to be involved in the making of school rules.



Ternyata negara maju yang terkenal sebagai salah satu tempat terbaik untuk menuntut ilmu masih digugat sistemnya oleh warganya sendiri. Untuk pengetahuan pengantar, Jerman memiliki sistem pendidikan kurang lebih seperti ini:

Anak saat kecil biasanya akan masuk ke sebuah tempat bermain bernama Kinderkrippe, sebuah kelompok anak-anak biasanya dari mulai umur 1 tahun hingga 2 tahun (tergantung pertimbangan masing-masing orang tua) 

Lalu selanjutnya mereka akan masuk ke Kindergarten: Sebuah kelompok lanjutan, biasanya anak akan di sana hingga berumur 5 tahun.

Ketika memasuki umur 6 tahun anak akan dimasukkan ke Grundschule selama 4 tahun, lalu selanjutnya anak akan terbagi-bagi lebih banyak pilihan sekolah, Yaitu antara Mittelschule (sebelumnya bernama Hauptschule namun sekarang sudah berganti nama), Realschule atau Gymnasium. Jika ingin melanjutkan Universitas anak harus lulus dari Gymnasium, jika baru lulus dari Realschule atau Mittelschule anak terlebih dahulu melakukan ujian Abitur(semacam ujian kelulusan atau ujian yang diharuskan untuk lalu selanjutnya dapat mendaftar Universitas). 

Selain Universitas pilihan yang lain adalah Fachhochschule atau Hochschule semacam sekolah di mana fokus utamanya adalah menciptakan lulusan yang siap bekerja, untuk memasuki Fachhochschule bisa dikatakan "lebih mudah" dibandingkan memasuki "Universitas". Secara tersirat anak yang kemampuannya lebih dari yang lain atau cerdas biasanya akan sekolah di Gymnasium dan lanjut ke Universitas.
Jika dilihat secara lebih umum, pilihan sekolah yang banyak membuat pelajar di Jerman memiliki berbagai alternatif terutama terkait minat tertentu. Nampaknya Jerman dapat menempatkan individu yang tepat di tempat belajar yang tepat.

Jadi apakah yang dikritik dari para pelajar pada demonstrasi Munich tahun 2010? Bisa dibilang mereka mengkritisi sistem kurikulum sekolah yang kurang lebih membebani para pelajar. Mereka ingin mencintai sekolah dan proses belajar, bukan membencinya, sedangkan sistem pendidikan saat ini menurut demonstran membuat mereka lelah, tertekan, dan tidak bahagia.



Demokrasi adalah hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah. Begitu menurut film ini, ada benarnya karena sekolah penuh dengan sistem otoriter. Peraturan dibuat tanpa melibatkan komponen sekolah dari mulai murid hingga guru. In school you never learn how to be democracy people.

Pengajar dan pelajar menerima segala hal dari mulai kurikulum, waktu istirahat, peraturan, nilai minimum, pelajaran yang harus dilakukan dengan "paksaan". We cannot say NO, atau kita tidak bisa mengkritisi semua hal yang ada pada sekolah, selama kita masih menjadi bagian di dalamnya.

Dalam belajar murid tidak tahu caranya menjadi efektif karena tidak diberikan kesempatan untuk menentukkan sendiri serta bertanggung jawab atas pilihannya. Maka apakah dapat diambil kesimpulan awal, karakteristik yang "kurang kritis" menyebabkan insan pemuda mudah didoktrinasi oleh hal tertentu. Bahkan menjadi ekstrem dalam hal tertentu?



Yang ditawarkan sekolah demokrasi berbeda dan berani. Antara lain benar-benar mengenalkan demokrasi sejak dini.
Secara garis besar sistemnya begini:
-Siswa dibiarkan berkeliaran di sekolah tidak ada keharusan untuk memasuki kelas
-Siswa memiliki kebebasan menentukkan mata pelajaran yang ingin dipelajari
-Siswa dan guru bekerja sama dalam sebuah rapat mingguan untuk membuat peraturan sekolah
-Siswa dibolehkan memasuki kelas anak yang lebih tua maupun lebih muda, tidak ada batasan atau larangan jika siswa ingin belajar dengan yang lebih tua
-Semua pendapat siswa, guru maupun orang tua murid didengarkan, dan dipertimbangkan.



Untuk pembaca yang dapat berbahasa Jerman, bisa menonton video ini untuk pengenalan singkat

Ada sebuah wawancara di mana seorang siswa sekolah demokrasi mengobrol dengan sesamanya, dan mereka mendapat tanggapan klasik bahwa berada di sekolah demokrasi maka siswa tidak melakukan apapun, dengan kata lain "doing nothing all day". Dan menurut seorang anak, tidak melakukan apapun sepanjang hari begitu membosankan. Sekolah demokrasi pada dasarnya mengikuti insting manusia untuk belajar, karena pada akhirnya manusia memiliki dorongan untuk melakukan hal tersebut terutama anak-anak. Manusia memiliki motivasi yang berbeda-beda untuk belajar dan tentu diikuti dengan kemampuan serta minat berbeda.

Contoh menarik dalam film adalah terdapat sebuah sekolah demokrasi yang memiliki pelajaran Schreiben f├╝r Junge dalam bahasa Indonesia adalah "menulis untuk anak laki-laki". Kelas ini diprakarsai para bocah lelaki yang sedang asik bermain sepak bola, lalu diantara mereka akhirnya memutuskan ingin membuat sebuah kelas menulis khusus lelaki, karena mereka ingin belajar menulis dengan bagus dan indah tanpa dihakimi para perempuan. Lalu berjalanlah kelas tersebut dengan guru yang kentara siap mengajarkan.

Dalam setiap rapat sekolah semua berhak mengeluarkan pendapat, salah satu contoh dalam film ini adalah ketika mereka membuat peraturan bolehkah membawa minum ke dalam kelas. Setiap anak memiliki pendapatnya masing-masing. Mereka memilah, mempertimbangkan mana yang terbaik. Peraturan-peraturan yang dibuat kemudian dicatat agar setiap anggota komponen sekolah bisa mematuhi serta bertanggung jawab atas pilihannya.

Hal-hal lain dibicarakan secara terbuka dalam rapat, menentukkan anggaran wisata, tempat wisata, mata pelajaran. Bahkan ketika sekelompok anak ingin mengadopsi kucing di sekolah, mereka memusyawarahkan bersama-sama. Mereka harus mengajukan semacam proposal presentasi kepada seluruh komponen sekolah, secara tidak langsung sekelompok anak ini mau tidak mau harus mengetahui berbagai informasi tentang kucing. Bagaimana cara merawatnya, apa makanannya, apa jenisnya, anggaran biayanya, jika sakit bagaimana, siapa tugas memberi makan. Semua direncanakan secara seksama sebelum diajukan ke komponen sekolah.

When they have conflicted mereka mengadu pada komite sekolah yang sebelumnya mereka pilih sendiri. Yang memiliki konflik dapat mengajukan komplain telah dirugikan oleh pihak mana. Mereka membicarakannya secara terbuka, bahkan urusan pertengkaran bermain balon air berujung perkelahian diselesaikan secara lebih "terhormat".

Kementrian Pendidikan di Israel sudah memiliki bidang tersendiri terhadap sekolah berbasis demokrasi. Garis penting dari sekolah demokrasi adalah terbukanya berbagai metode dan sistem yang terus dinamis seiring perkembangan jaman. Inti dari sekolah demokrasi adalah tidak berhenti mencari sistem pendidikan terbaik. 

Beberapa individu dalam film mengutarakan perubahan besar pada hidupnya setelah memasuki sekolah demokrasi. Mereka begitu bahagia di sekolah, hal yang menyedihkan adalah ketika libur musim panas. Beberapa lulusan juga mencapai kesuksesan, mereka "menemukan" dirinya di sekolah. Beberapa siswa yang datang ke sekolah ini sebelumnya memiliki perasaan frustasi, lalu berujung pada kemampuan mereka membaca diri mereka sendiri, merefleksikan pendapatnya sendiri.. Contoh lain adalah beberapa pelajar Asia yang mengatakan bahwa mereka begitu cemerlang dalam nilai pelajaran namun juga begitu tertekan sehingga angka bunuh diri di berbagai negara Asia begitu tinggi.

Wenn ich mich selbst anerkenne, kann ich effektiv bin.

Ketika kamu mengenali dirimu sendiri, kamu dapat begitu efektif menjadi manusia. Dalam artian, kamu dapat begitu berguna. 



Namun di sisi lain banyak kritik dan pertanyaan mengenai sistem pendidikan berbasis demokrasi. Salah satunya kekhawatiran orang tua mengenai bagaimana anaknya akan mendapat uang ketika sudah besar, bagaimana mereka dapat menemukan dirinya sendiri. Bagaimana mereka dapat mengikuti ujian masuk universitas dan lain lain. Orang tua belum terlalu percaya pada anak-anaknya bahwa anaknya dapat begitu cerdas menghadapi dunia.

Kritik lain adalah bentuk sistem pendidikan yang abstrak(karena sekolah demokrasi membiarkan setiap komponen sekolah menentukan sendiri bagaimana proses belajar mengajar) untuk beberapa orang tua begitu riskan mencapai keberhasilan. Belum lagi ketimpangan jumlah siswa yang banyak dan guru yang sedikit (salah satu permasalahan klasik yang banyak diperbincangkan dalam dunia pendidikan).

Maka dari itu di Eropa sendiri sekolah berbasis demokrasi terus didampingi oleh EUDEC (European Democratic Education Community). Mereka mengadakan berbagai forum, konferensi maupun seminar terkait pengetahuan democratic education.

Ada teori lain mengapa sistem sekolah demokrasi tidak berkembang secara pesat adalah karena berbahaya untuk mengajarkan demokrasi pada insan manusia sejak dini. Karena karakter demokrasi dituntut untuk selalu kritis, untuk bisa mengetahui apa yang terbaik untuk dirinya dan komunitasnya. Untuk "gelisah" terhadap segala peraturan otoriter yang jika ditimbang belum tentu baik untuk semua lapisan.




Tulisan di atas terinspirasi dari pemutaran film dan diskusi:

Freistunde - Doing Nothing All Day
Sutradara: Margarete Hentze


*Seluruh cuplikan gambar dari Teaser resmi film Freistunde

Comments

Popular Posts