LayarKita - Kontribusi dalam Kehidupan Bersama Komunitas

Saya mengejewantahkan apa yang diutarakan Aristoteles mengenai praxis. Tindakan macam apa yang dimaksud dengan praxis? Praxis memang segala tindakan yang dilakukan demi dirinya sendiri. Namun, praxis yang terpenting adalah partisipasi dalam kehidupan bersama komunitas. Dalam praxis manusia merealisasikan diri sebagai makhluk sosial. Kekhasan manusia adalah bahwa ia merupakan “makhluk campur”, dalam dirinya kerohanian dan kejasmanian bercampur. Ia bukan dewa yang rohani dan bukan binatang yang tidak memiliki kerohanian. Karena itu, wilayah khas penemuan diri manusia adalah dunia manusia, masyarakat.

Bagaimana tindakan praxis saya? Mungkin tidak akan saya temukan jika saya terlalu fokus pada dunia akademis (salah satu yang saya sesali karena pada masa awal kuliah sebenarnya saya bisa melakukan banyak hal lain di luar pekuliahan). Saya lalu entah mengapa terdorong ingin melakukan sebuah aktifitas berbeda, yang selama ini belum pernah saya lakukan: Menonton sebuah film di ruang publik (niat saya murni iseng). Saya mencari aktifitas tersebut lewat lini masa yang pada masanya dapat memberikan info-info alternatif: Twitter.



Tempatnya di Museum Konperensi Asia Afrika, seumur hidup tinggal di Bandung baru sekali itu saya menginjakkan kaki di Museum tersebut. Pemutaran sudah berlangsung, saya sedikit terlambat. Masuk dengan lamat-lamat karena lampu ruang Audio Visual padam. Saya duduk dan menonton, film pertama saya: Samsara (2011). Film dokumenter non-naratif, isinya berbagai cuplikan kejadian dengan sinematografi yang indah. Samsara mengandung makna birth, death and rebirth. Jika dipikir saat ini, Samsara memang lah film yang memukau. Bentuk eksperimental yang dipadukan seperti liputan National Geographic. Tapi kala itu, saya sungguh tidak mengerti film macam apa yang baru saja saya saksikan. Setelah pemutaran kami disuguhkan panganan ringan gratis, (wah sungguh dermawan sekali) karena tidak lah sopan sesuai adat ketimuran bahwa jika setelah mencomot makanan kamu langsung angkat kaki pulang, sedikit terpaksa saya duduk kembali (sungguh saya dulu tidak tahu bahwa setelah pemutaran berlangsung sebuah diskusi).

Lalu orang-orang ini mulai membicarakan pendapatnya masing-masing seperti apakah filmnya, bagaimana bentuk pengambilannya, bagaimana perasaan mereka setelah menonton film atau membandingkannya dengan media relevan lain atau judul film lain. Sang moderator berkata jika memberi pendapat akan diberi sebuah buku (karena saya senang membaca dan tak tahan jika ada sayembara buku gratis) dengan riang hati saya mengacungkan tangan (demi buku). Hahaha. Saya memberi pendapat sejujur-jujurnya bahwa filmnya bagus dipandang namun saya belum bisa menangkap maknanya. Samsara bagai karya seni kontemporer yang tidak semua orang mengerti.

Tapi anehnya seminggu kemudian saya datang lagi ke pemutaran. Hingga minggu berikutnya saya selalu datang, saya lupa berturut-turut film apa saja yang "terpaksa" saya tonton di Museum, seingat saya ada Ragging Bull (1980) dari Martin Scorsese, lalu ada juga The Hidden Fortress (1958) dari Akira Kurosawa dan beberapa film lain. Hingga saat ini saya selalu merasa ajaib bahwa saya terus datang walau diberi film "berat". Dulu tontonan saya sesederhana film yang memang ada di bioskop, saya sama sekali tidak pernah membuka laman IMDB atau Rotten Tomatoes atau membaca rekomendasi Taste Of Cinema atau "nongkrongi" artikel-artikel dari Cinema Poetica.

Usut punya usut, orang-orang yang "kurang kerjaan" memutar film-film di Museum ini adalah sebuah komunitas bernama LayarKita.

Saya ingat, waktu itu tak sengaja saya meletakkan buku Kahlil Gibran "Sang Guru" di atas tas, buku yang memang sedang saya baca, saya menemukan buku tersebut di perpustakaan tempat saya praktek mengajar, terselip, usang dan tidak menarik. Namun buku tipis terlupakan tersebut isinya brilian, karena buku itu motivasi membaca saya meningkat drastis dan secara kebetulan saya juga dipertemukan dengan komunitas yang berhubungan dengan dunia literasi. Selanjutnya saya mulai aktif bersama komunitas.

Di dalam komunitas saya dipertemukan dengan orang berbagai kalangan, berbagai latar belakang profesi dengan masing-masing dari mereka kerap memberi pendapat di sesi diskusi. Saat berkumpul tak ayal kami membicarakan politik, sejarah, filsafat atau seputar buku apa yang sedang dibaca.
Bisa dibilang, apa yang dilakukan komunitas seperti selayaknya kaum berpikir, selayaknya manusia. Berbincang dan berdiskusi, namun dilengkapi esensi.

LayarKita memutar film tidak hanya di Museum, tapi juga di Institut Perancis (IFI), di gereja, di masjid, di ruang-ruang publik yang ingin menjalin kerja sama. Selain putar film dan berdiskusi setelahnya, beberapa kegiatan lain adalah membedah buku dan siaran radio. (Segudang kegiatan dengan hanya tim kecil)

Kegiatan menonton dan berdiskusi banyak merubah saya, saya seperti melakukan penelitian terhadap diri sendiri. Apa yang terjadi jika kamu terbiasa menonton film dengan ragam latar penuh "warna"? Bayangkan; Satu hari kamu melihat kehidupan di Jepang, lalu hari lain kamu menonton bagaimana kehidupan masyarakat Pakistan, atau anak-anak di Arab Saudi, atau perempuan di Lebanon, atau kamu "dipaksa" mengamati kehidupan di kapal selam sempit saat Perang Dunia, hari lain kamu mengamati dua orang yang makan malam. Kamu terbiasa melihat manusia berwarna warni, dengan kisahnya masing-masing.
Bisa dikatakan itu yang diberikan dunia literasi, dan tidak hanya terkhususkan pada film. Buku pun.

Dalam sesi diskusi kamu dipertemukan berbagai macam pandangan, dari yang hanya berkomentar asal, yang beresensi, bahkan yang ekstrim sekalipun (tapi ekstrimis mungkin tidak terlalu senang diajak berdiskusi), karena dalam berbincang kamu ditabrakan dengan berbagai pandangan yang sebelumnya sama sekali tidak pernah terbersit dalam pikiran, alam bawah sadar belajar mengenai apa yang dimaksud dengan sepakat untuk tidak sepakat. Semacam, saya tidak setuju, kamu tidak setuju, kita berbeda dan begitulah adanya.Tanpa pemaksaan pendapat.

Dampaknya adalah saya melihat manusia selayaknya manusia. Berbeda.
Setiap individu memiliki alasan dibalik setiap tindakan, pikiran saya tidak tertutup dalam satu kemungkinan. Kebiasaan melihat berbagai sisi warna warni membuat saya juga tidak terlalu percaya terhadap sesuatu, saya mempertanyakan hampir segala hal.

Di dalam sebuah video mengenai cara meningkatkan kemampuan ber-empati salah satunya adalah dengan sering memperhatikan atau mengobservasi. Misalnya, ketika di dalam kendaraan umum, kita berimajinasi mengenai kehidupan orang lain yang tak sengaja kita lihat. Apa yang dilaluinya hari ini? Bagaimana keluarganya? Saya melakukannya cukup sering bahkan sebelum melihat video tersebut.

Peningkatan kemampuan ber-empati menyebabkan individu tidak mudah dimasuki pandangan-pandangan yang mengadu domba, dan bukankah itu yang diperlukan tanah air saat ini?

Di sisi lain, apa yang dilakukan komunitas-komunitas film atau seni budaya (tidak hanya LayarKita) bisa dikatakan sebagai jembatan untuk menyambungkan antara kebutuhan dasar dengan kebutuhan "mewah". Untuk situasi dan kondisi Indonesia saat ini, pengetahuan mengenai budaya, seni, buku, film atau filsafat dipandang sebagai kebutuhan yang mahal. Memang kebutuhan ini bukan merupakan kebutuhan fisiologis. Problematika bagaimana menjembatani antara kebutuhan dasar dan "kemewahan literasi" sudah dibahas di tahun 90an bahkan di negara maju seperti Jerman.

Di sebuah simposium Universitas Film dan Televisi Munich, Jerman. John V. Hormann seorang pembicara tamu dalam esaynya yang berjudul "Was Hindert Uns Daran, Superkreative Zu Sein?" (Bahasa: "Apa yang menghalangi kita untuk menjadi kreatif?") mempertanyakan bagaimana menjembatani komunikasi yang didasari cinta, seni dan budaya dengan kebutuhan dasar masyarakat. Menurutnya itu adalah tanggung jawab yang harus dipikul. Dia menulis bahkan pada awal tahun 70an sekelompok penggiat film seperti Hauff, Wenders, Schloendorff, Herzog dan Fassbinder saling bekerjasama memikirkan solusi menjembatani "kemewahan film".

Menurut saya, komunitas adalah salah satu jawaban kreatif yang sudah dilaksanakan oleh kaum pemikir di tanah air.
Seperti apa yang dikatakan John V. Hormann lebih lanjut:
Die Zeit der Giganten ist vorbei. Es ist die Zeit der Gruppen, der kooperativen und kreativen Gruppen.

Waktu untuk satu-satunya hal besar sudah lampau. Sekarang adalah waktu untuk kelompok yang kooperatif dan kreatif.

Pada akhirnya kegiatan yang ditawarkan komunitas lain tentu tidak terbatas pada dunia film maupun literasi, paritisipasi tiap individu melalui komunitas bisa menjembatani bidang-bidang "kemewahan" beragam yang letaknya dalam Piramida Maslow berada di puncak. Seperti pemanfaatan teknologi di kehidupan maupun upaya penjagaan lingkungan. Diharapkan ke depan setiap masyarakat memiliki kecerdasan memikirkan solusi berbagai permasalahan dengan pertimbangan berbagai aspek pengetahuan yang sudah didapat.


Berikut adalah tulisan mengenai komunitas LayarKita di koran Pikiran Rakyat hari Senin tanggal 13 Februari 2017 yang ditulis oleh Syarif Maulana, dosen ilmu komunikasi salah satu Universitas di Bandung:



Comments

Popular Posts